KUALITAS pendamping KH Zainul Majdi, Ir H Badrul Munir MM tidak bisa dipandang sebelah mata. Badrul merupakan seorang birokrat ulung dan berpengalaman. Selama ini karir pria kelahiran Sumbawa 11 Agustus 1954 itu, banyak berkecimpung dalam bidang
Selama menjabat sebagai pejabat di jajaran birokrasi NTB, Badrul mampu membuat efisiensi di struktur organisasi Pemprov NTB. Ia berani memangkas jalur birokrasi dan mengurangi penggunaan anggaran yang tidak penting.
Kemampuan intelektual, birokrasi ditunjang oleh jiwa akademisnya, mengasah kemampuan Badrul untuk menjadi seorang penulis andal. Buah pikirannya memberi warna tersendiri bagi pencerahan pembangunan, tidak hanya di NTB, tetapi juga di kancah nasional.
Berbeda dengan banyak penulis lain, nilai idealisme Badrul yang tertuang dalam tulisannya tidak hanya sampai di atas kertas. Setidaknya hal ini coba dibuktikannya dengan mundur dari jabatannya sebagai Karo
Organisasi Setda Provinsi NTB, beberapa saat setelah dicalonkan sebagai Bakal Calon Wakil Gubernur (Bacawagub) oleh PBB dan PKS. Padahal, saat itu aturan yang ada belum mengharuskan dirinya mundur dari jabatannya.
Badrul merupakan salah satu dari sedikit pejabat yang bersih. Karenanya tak heran, berpuluh-puluh tahun menjadi pejabat, Badrul tetap hidup istiqomah bersama seorang istri dan seorang putri di perumahan padat, BTN Kekalik Mataram.
‘’Biar rumah saya kecil, saya merasa tentram dan merasa rumah ini adalah surga keluarga kami,’’ kata Badrul yang sepulangnya dari haji tahun lalu, langsung mendirikan sebuah mushola kecil di belakang rumahnya.
Selain itu, Bang Bam, panggilan akrab Badrul Munir, juga telah banyak melahirkan buku-buku berkualitas, yang menjadi pegangan di berbagai universitas termuka di Indonesia. Diantara buku yang ditulisnya antara lain,
Babak Baru Pembangunan Daerah; Gagasan, Dilema dan Tantangan (2000), Perencanaan Pembangunan Daerah dalam Perspektif Otonomi Daerah (2002); Perencanaan Anggaran Kinerja; Memangkas Efisiensi Anggaran Daerah (2003); Perubahan dan Status Quo (2004).
‘’Buku-buku Badrul Munir bukan buku-buku kacangan,’’ kata penulis NTB Farid Tolomundu dalam buku berjudul Orang Biasa Yang Tidak Biasa yang ditulis tahun 2005.
Buku-buku Badrul sangat diminati berbagai kalangan. Beberapa buku bahkan mendapat beberapa kali cetak ulang. Seperti diantaranya buku Perencanaan Pembangunan Daerah: Dalam Perspektif Otonomi Daerah yang telah mengalami cetak ulang hingga tiga kali dan menjadi buku pegangan mahasiswa tingkat Magister di UI dan UGM.
Tak heran, karena manfaat yang besar dari buku karyanya, Badrul Munir dinisbatkan sebagai pegawai negeri dengan prestasi luar biasa pada tahun 2002 oleh Presiden Megawati Sukarnoputri. Sebuah penghargaan yang tidak bisa diraih oleh birokrat sembarang.
Badrul Munir juga pernah meraih Citra Insan Pembangunan Indonesia, sebuah penghargaan nasional atas karya, dedikasi dan loyalitas di bidang pembangunan nasional dan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di lingkungan pemerintahan.
Dilihat dari hasil karyanya, Badrul Munir rupanya melihat perencanaan pembangunan penting untuk dibahas. Sebab dari perencanaan yang baik, sebuah proses pembangunan diharapkan menghasilkan buah yang baik pula. “Perencanaan yang buruk merupakan simpul awal terjadinya inefisiensi sumberdaya pembangunan,” urai Badrul Munir.
Sebagai pelaku pembangunan, Badrul Munir sangat memahami system perencanaan pembangunan daerah. Selama ini menurut Badrul, banyak system yang bersifat pragmatis-akademik, idealistik dan tidak fokus
“Kita perlu perencanaa yang realistis dan operasional,” tegas Badrul yang merintis banyak penemuan teknologi terapan sewaktu ia menjadi kepala Litbang Bappeda NTB.
Menurut Badrul, NTB merupakan provinsi dengan karakteristik masyarakat yang sangat beragam. Penduduk NTB banyak tinggal di dua pulau besar di NTB yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Selama ini, dia melihat masih ada ketimpangan pembangunan di dua pulau tersebut. Terutama menyangkut keamanan, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Ada daerah yang banyak menikmati pembangunan, tapi daerah lain masih jauh tertinggal. Sampai masih ada daerah yang belum memiliki sarana dan prasarana umum yang memadai, dan persoalan kebutuhan primer lainnya seperti sulitnya pangan dan air bersih, sulitnya pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Pasangan ini bercita-cita menjadikan NTB menjadi daerah yang berubah menuju kemajuan, dimana keamanan terjaga, tidak ada lagi konflik dalam masyarakat, pembangunan yang merata, penyediaan sarana dan prasarana, tingginya aliran investor dan pembangunan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan primer lainnya.
Kapasitas dan kredibilitas pasangan Gubernur dan Wagub NTB ini memang tak diragukan lagi. Semoga perjuang pasangan ini diridhoi dan diberkahi Allah SWT. Amien. |